Kamis, 07 Oktober 2010

Pembatalan SBY ke Belanda

Beberapa hari lalu tepatnya hari Selasa tanggal 5 Oktober 2010, Bapak SBY muncul di TV untuk mengumumkan pembatalan kunjungannya ke kerajaan Belanda atas undangan Ratu Beatrix, karena kekhawatirannya akan ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan di Belanda.

Memang sistem pengadilan di Belanda yang terlepas dari pengaruh politik, sangat mungkin untuk tidak menghiraukan keinginan politik pemerintahan Belanda untuk menjalin huhungan dengan Indonesia dan negara lainnya.

Adalah RMS, Republik Maluku Selatan, meskipun merupakan minoritas di kerajaan Belanda, dan itupun secara politik tidak diakui oleh pemerintah Belanda, namun ia dinilai punya hak di mata hukum untuk mengajukan gugatan kepada Pemerintah dalam hal ini Presiden RI untuk mempertanggungjawabkan kejadian beberapa waktu lalu terhadap kelompok RMS di Indonesia.

Meskipun secara sadar betul bahwa gugatannya tidak akan diterima, sebagaimana diramalkan oleh beberapa pihak bahwa gugatan atau tuntutan menangkap presiden ini tidak diterima, karena alasan hukum internasional. Namun hal ini adalah merupakan tindakan politik yang telah dipersiapkan lama.

Kemenganan politik pertama bagi RMS adalah, hanya sebuah RMS yang merupakan organisasi yang sangat kecil yang ada di Belanda yang keberadaannya pun secara politis tidak diakui oleh pemerintah Belanda, mampu membatalkan kunjungan seorang Presiden dari sebuah negara dengan penduduk sebesar 136 juta jiwa.

Keputusan Presiden untuk membatalkan kunjungan tersebut memang masuk akal, dapat dibayangkan apabila setiba di Bandara Schipol, tiba-tiba ditangkap oleh aparat setempat untuk diajukan pada persidangan yang rencananya akan digelar pada hari kedatangannya.

Hal ini akan menciderai perasanan bangsa Indonesia secara keseluruhan, apapun putusan dari lembaga peradilan apakah dinyatakan bersalah ataupun tidak, tetapi seorang Presiden duduk dihadapan pengadilan seperti seorang pesakitan, sungguh tidak elok untuk sebuah kehormatan.

Meskipun pemerintah belanda sudah berulang kali menjamin secara hukum internasional terhadap keselamatan seorang tamu negara, tetapi apakah ada jaminan dari pemerintah ketika lembaga Peradilan yang terlepas dari kekuatan politik Pemerintah dapat menghalangi tindakan sistem peradilan di Belnada tersebut, memang dapat menjadi polemik tersendiri.

Apabila Presiden tetap hadir dan tidak terpangaruh dengan gugatan RMS tersebut, dapat diramalkan juga RMS secara politis akan mendapat keuntungan.

Pada hari kedatangan Presiden, katakanlah pemerintah Belanda dapat menjamin tidak terjadi penangkapan. Dilain pihak sidang tetap dilanjutkan, pada sidang tersbut tentu akan dibacakan gugatan dari RMS.

Pembacaan gugatan RMS pada saat digelar sidang yang terjadi pada waktu Presiden SBY di negara itu, tentunya akan mendapat perhatian dari banyak wartawan yang meliput kunjungan tersebut, khususnya para wartawan Indonesia.

Dan yang dihasilkan oleh politik RMS adalah bukan sekedar eksistensinya yang diakuinya tetapi pada saat yang bersamaan ia akan mengungkapkan di sidang itu propaganda-proganda politik.

Dapat dibayangkan ungkapan RMS yang dibacakan dipersidangan yang menyudutkan pemerintah Indonesia, baik atas perlakuan pemerintah Indonesia pada RMS khususnya dan penanganan tragedi maluku serta keselahan-kesalahan pemerintah Indonesia di Maluku selama ini yang tentu saja secara sepihak, akan tersebar keseluruh penjuru Indonesia, oleh pemberitaan pers Indonesia yang sedang melakukan tugas pokoknya meliput Presiden.

Dan bisa jadi itu adalah sebagai propaganda politik yang sangat sukses tanpa mengeluarkan banyak uang dari RMS.

Lepas dari pro dan kontra pendundaan ini. Berangkat atau ditundanya Bapak Presiden RI ke Belanda, bagi RMS tidak masalah, itu hanya sebuah strategi politik. Dan Indonesia tetap kecolongan dengan manuver politik seperti ini.

Jumat, 01 Oktober 2010

45 tahun lalu

Sebuah Koran edisi hari itu tanggal 1 Oktober 1965 masih tergelar dihadapanku.

Setelah kudengar beberapa pembicaraan yang dilakukan secara bisik-bisik dikampung tetangga. Aku masih belum secara nyata mengerti, berita duka yang dimuat dalam Koran itu. Yang kulihat waktu itu adalah sebuah gambar yang menunjukkan peristiwa perampokan seorang jenderal di jalan raya yang menyebabkan tewasnya jenderal itu. Sekali lagi, bahwa gambar itu menunjukkan peristiwa perampokan seorang jenderal yang menyebabkan tewasnya jenderal itu di jalan raya.

Rupanya pada saat yang sama sedang terjadi hal yang sangat luar biasa di negeri tercinta ini, yaitu usaha kudeta yang menyebabkan dibunuhnya para jenderal dengan biadab. Koran yang aku baca itu (saya lupa koran apa) tetapi dengan jelas berusaha mengalihkan opini masyarakat bahwa kematian jenderal itu adalah sebuah perampokan dan bukan pembunuhan yang sistimatik untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Situasi memang tampak mencekam, para orang tua diam dan tidak berani (atau memang tidak mengerti) apa yang sebenarnya terjadi, menceritakan kepada anak-anaknya. Yang kuamati adalah banyaknya truk-truk yang berisi tentara berlalu lalang dijalanan. Tidak hanya truk-truk berisi tentara, mesin-mesin perang seperti tank dan kendaraan militer lainnya yang berisi tentara melewati kota Pekalongan menuju kesuatu tempat.

Hari-hari berikutnya adalah berisi kegelisahan, apalagi setelah peristiwa G-30-S/PKI diketahui secara missal, masyarakat secara spontan meneriakkan kemarahan yang sama khususnya kepada anggota PKI, banyak rumah-rumah orang PKI dibakar dan dihancurkan oleh massa. Salah satu rumah tembok di jalan Progo kelihatan hancur rata dengan tanah, menurut cerita dari mulut ke mulut pemilik rumah sudah pergi pada waktu rumah dihancurkan.

Setiap hari ada saja kabar yang menyebutkan rumah dibakar atau dihancurkan. Apalagi bagi sebuah kota kecil ini. Yang jadi pertanyaan yang menggelitik waktu itu meskipun tidak terucap adalah. Apakah tidak mungkin isu yang hanya dari mulut ke mulut tersebut ternyata tidak benar, apakah tidak dilakukan penelitian dulu kalau orang tersebut benar-benar bersalah, jangan-jangan hanya karena persaingan dagang saja kemudian mengisukan bahwa pedagang adalah anggota PKI yang tentu akan mengakibatkan dihancurkannya took tersebut.

Masyarakat nampaknya memang sedang marah dan sangat mudah dengan provokasi sekecil apapun. (Peristiwa ini terulang lagi pada waktu kerusuhan pada jatuhnya orde baru 22 Mei 1997). Kalau seorang bilang bakar rumah itu, massa itu secara spontan akan melakukan suara itu tanpa berpikir panjang.

Berikutnya adalah berita-berita yang tidak begitu jelas mengenai pembunuhan, baik dilakukan oleh oknum tentara maupun di dalam sidang-sidang luar biasa terhadap orang yang terlibat atau anggota PKI ini.

Seorang tetangga ikut dibawa petugas, kabarnya dibelakang rumahnya terdapat tempat untuk meyimpan alat-alat untuk menyiksa lawan politik PKI, dan seorang Pemuda dikampung kami bernama Karmain juga di bawa petugas karena ada hubungannya dengan penyimpanan benda-benda itu.

Yang menjadi saya heran hingga kini adalah nama Ibu kabarnya termasuk dalam daftar yang akan dihabis PKI, apa salahnya seorang guru ?.

Peristiwa itu adalah sejarah buruk yang mudah-mudahan tidak terulang dikemudian hari. Banyak keluarga yang jadi korban dari peristiwa ini. Baik materi, non materi bahkan nyawa yang takkan mungkin kembali. Pengaruhnya sampai dengan waktu yang sangat lama untuk memulihkannya.

Bagian Biografi

Bela Diri Karate

Kegiatan ini sebetulnya bukan untuk melampiaskan dendam karena kalah berkelahi dengan seseorang atau membalaskan dendam keluarga karena korban dari pendekar jahat seperti sering kita lihat di film-film silat, atau bukan juga untuk mencari musuh setelah menjadi pendekar untuk mencoba ilmunya atau lebih jauh lagi untuk kemudian karena ilmunya ingin menguasai dunia. Tidak sama sekali. Sebetulnya waktu itu hanya ikut-ikutan saja untuk menyalurkan energiku saja.

Diawali dari berdirinya sebuah perkumpulan karate dan yudo di kota kecil ini menjadi perbincangan yang cukup menghebohkan khususnya dikalangan anak-anak sebaya denganku. Pelatihnya datang dari Jakarta, persis seperti pendekar yang sedang merantau. Ia sendirian datang kesini, tidak ada keluarga, tidak ada teman. Karena orangnya cukup terbuka dan pintar, maka dalam waktu singkat ia mulai mempunyai banyak teman. Satu-satunya modal yang ia punya adalah ban hitam untuk Karate dan Yudo.

Ia cepat mempunyai murid yang ingin berkenalan dengan olah raga bela diri yang relative masih baru di kotaku itu. Diantara murid yang kebanyakan adalah anak-anak tersebut terdapatlah diriku. Ya seperti yang telah saya sebut tadi, ikut-ikutan saja. Tidak punya maksud apa-apa.

Untuk mencari baju karate pada waktu itu susah, dan harus ke luar kota. Atas kesulitan tersebut ada yang segera menangkap peluang, ia bekerjasama dengan penjahit kenalannya membuat sendiri baju karate, yang tentu saja banyak juga yang memesan kepada dia, termasuk aku.

Disamping latihan teknik seperti jurus-jurus dan kekuatan dan kekebalan fisik (seperti latihan memukul benda keras), lari nampaknya memang menjadi latihan wajib untuk meningkatkan fisik, dari setiap kegiatan tidak pernah lepas dari lari, dari mulai masuk menjadi anggota, kenaikan tingkat semua dilalui dengan lari.

Latihan karate ini memerlukan fisik yang kuat, latihan setiap minggu dua kali mulai jam 3 sampai jam 5 sore. Diawali dengan lari keluar gedung selama 30 menit tanpa alas kaki dengan aspal yang panas. Disamping nafas harus kuat juga kaki harus tahan kebal juga.

Setiap latihan diakhir dengan body contact satu lawan satu.

Karena latihan inilah maka tidak heran dan takut ketika tiba-tiba diharuskan lari keluar kota untuk kenaikan tingkat.

Untuk lari tanpa alas kaki ini, yang terjauh pernah kualami adalah dari kota Tegal kembali ke Kota Pekalongan. Mulanya kelompok kami naik angkutan menuju kota Tegal setelah Sabtu sore. Setelah istirahat seperlunya, pada jam 8 malam rombonganm diberangkatkan dari kota Tegal jalan kaki kembali kea rah Pekalongan. Jumlahnya cukup banyak tidap regu ada sekitar 12 orang. Tiap anak membawa obor yang dibuat dari bamboo yang diisi minyak tanah. Yang baris paling depan menyalakan obor sebagai penerangan. Melewati jalan raya sepanjang jalan Tegal Pekalongan jangan dibayangkan dilakukan pada saat ini. Karena kondisi waktu itu masih sepi, mobil dan bus-bus malam hanya melintas sekali-kali, sehingga tidak cukup menakutkan. Tiap kali bus atau mobil melintas tidak lupa membunyikan klakson, sehingga kami kemudian menepi hingg keluar jalan aspal. Untuk jalan tanpa alas kaki memang merasa nyaman kalau berjalan di aspal, karena cukup halus dan tidak kasar seperti dipinggir jalan yang biasanya berbatu kerikil.

Dengan bersemangat kami terus melakukan perjalanan sambil berteriak, bergurau atau bernyanyi untuk mengusir kejenuhan dan sepi yang makin lama makin menyergap. Mobil semakin jarang yang lewat. Kejenuhan kami lama kelamaan muncul juga, bersamaan dengan rasa capek dan kantuk yang kian menyerang. Suara keceriaan mulai surut, yang ada hanyalah suara langkah yang tetap dan suara serangga malam disertai angin yang menambah semakin berkurangnya kesadaran kami.

Rasa kantuk datang lebih dulu dari rasa capek, meskipun kaki ini masih terus berjalan mengikuti irama, tetapi kesadaran kami sangat tipis, antara mimpin dan tidak. Kaki ini terus melangkah, tetapi kesadaran kami hanya setengah.

Tanpa disadari ada seorang yang terjatuh karena kantuk, dan kemudian yang lainnya juga merasakan hal yang serupa, tidak dapat manahan kantuk sampai terjatuh, meskipun kaki ini mencoba setia dengan langkahnya. Jam waktu itu mungkin sudah menunjukkan sekitar 10 malam. Kemudian ketua rombongan berinisiatif untuk mengistirahatkan sementara anak-anak ini. Kebetulan waktu itu tepat di depan kantor polisi Pemalang, dan kami diberi kesempatan untuk numpang istirahat dan tidur di kantor polisi Pemalang. Pemalang adalah sebuah kecamatan yang terletak persis ditengah-tengah kota Pekalongan dan Tegal.

Sudah barang tentu tidak cuma istirahat yang kami lakukan, tetapi juga tidur dengan pulas meskipun tidak beralas apapun.

Jam 5 pagi kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan. Pemberangkatan mulanya dilakukan masih dengan bentuk barisan, tetap lama-lama kami berpencar sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing anak. Apalagi ketika matahari sudah tinggi, dianggap sudah tidak perlu lagi berjalan secara bergerombol.

Di setiap jalan setiap orang dibebaskan istirahat sesukanya, targetnya adalah berjalan sampai kota tujuan Pekalongan. Kami tidak ingin terlalu lama di jalan, ingin segera sampai kerumah dan istirahat dengan nyaman. Begitulah yang terbayang dibenak kami masing-masing. Istirahat di jalan dilakukan seperlunya saja. Untuk kebutuhan minum kami tidak perlu bersusah payah, karena kebanyakan rumah disepanjang jalan menyediakan sebuah tempayan berisi air bersih yang memang disediakan untuk pejalan kaki seperti kita ini. Kadang-kadang kami disuruh masuk oleh yang punya rumah untuk istirahat dan tentu saja dengan sajian kue-kue seadanya.

Begitulah, sampai di Pekalongan sekitar pukul 11 siang. Mungkin tidur terpanjang yang kualami adalah waktu itu setelah perjalan kaki dari Tegal ke Pekalongan itu. Dari mulai jam 1 Minggu siang sampai Senin pagi, karena harus berangkat ke sekolah keesokan harinya.