Bela Diri Karate
Kegiatan ini sebetulnya bukan untuk melampiaskan dendam karena kalah berkelahi dengan seseorang atau membalaskan dendam keluarga karena korban dari pendekar jahat seperti sering kita lihat di film-film silat, atau bukan juga untuk mencari musuh setelah menjadi pendekar untuk mencoba ilmunya atau lebih jauh lagi untuk kemudian karena ilmunya ingin menguasai dunia. Tidak sama sekali. Sebetulnya waktu itu hanya ikut-ikutan saja untuk menyalurkan energiku saja.
Diawali dari berdirinya sebuah perkumpulan karate dan yudo di kota kecil ini menjadi perbincangan yang cukup menghebohkan khususnya dikalangan anak-anak sebaya denganku. Pelatihnya datang dari Jakarta, persis seperti pendekar yang sedang merantau. Ia sendirian datang kesini, tidak ada keluarga, tidak ada teman. Karena orangnya cukup terbuka dan pintar, maka dalam waktu singkat ia mulai mempunyai banyak teman. Satu-satunya modal yang ia punya adalah ban hitam untuk Karate dan Yudo.
Ia cepat mempunyai murid yang ingin berkenalan dengan olah raga bela diri yang relative masih baru di kotaku itu. Diantara murid yang kebanyakan adalah anak-anak tersebut terdapatlah diriku. Ya seperti yang telah saya sebut tadi, ikut-ikutan saja. Tidak punya maksud apa-apa.
Untuk mencari baju karate pada waktu itu susah, dan harus ke luar kota. Atas kesulitan tersebut ada yang segera menangkap peluang, ia bekerjasama dengan penjahit kenalannya membuat sendiri baju karate, yang tentu saja banyak juga yang memesan kepada dia, termasuk aku.
Disamping latihan teknik seperti jurus-jurus dan kekuatan dan kekebalan fisik (seperti latihan memukul benda keras), lari nampaknya memang menjadi latihan wajib untuk meningkatkan fisik, dari setiap kegiatan tidak pernah lepas dari lari, dari mulai masuk menjadi anggota, kenaikan tingkat semua dilalui dengan lari.
Latihan karate ini memerlukan fisik yang kuat, latihan setiap minggu dua kali mulai jam 3 sampai jam 5 sore. Diawali dengan lari keluar gedung selama 30 menit tanpa alas kaki dengan aspal yang panas. Disamping nafas harus kuat juga kaki harus tahan kebal juga.
Setiap latihan diakhir dengan body contact satu lawan satu.
Karena latihan inilah maka tidak heran dan takut ketika tiba-tiba diharuskan lari keluar kota untuk kenaikan tingkat.
Untuk lari tanpa alas kaki ini, yang terjauh pernah kualami adalah dari kota Tegal kembali ke Kota Pekalongan. Mulanya kelompok kami naik angkutan menuju kota Tegal setelah Sabtu sore. Setelah istirahat seperlunya, pada jam 8 malam rombonganm diberangkatkan dari kota Tegal jalan kaki kembali kea rah Pekalongan. Jumlahnya cukup banyak tidap regu ada sekitar 12 orang. Tiap anak membawa obor yang dibuat dari bamboo yang diisi minyak tanah. Yang baris paling depan menyalakan obor sebagai penerangan. Melewati jalan raya sepanjang jalan Tegal Pekalongan jangan dibayangkan dilakukan pada saat ini. Karena kondisi waktu itu masih sepi, mobil dan bus-bus malam hanya melintas sekali-kali, sehingga tidak cukup menakutkan. Tiap kali bus atau mobil melintas tidak lupa membunyikan klakson, sehingga kami kemudian menepi hingg keluar jalan aspal. Untuk jalan tanpa alas kaki memang merasa nyaman kalau berjalan di aspal, karena cukup halus dan tidak kasar seperti dipinggir jalan yang biasanya berbatu kerikil.
Dengan bersemangat kami terus melakukan perjalanan sambil berteriak, bergurau atau bernyanyi untuk mengusir kejenuhan dan sepi yang makin lama makin menyergap. Mobil semakin jarang yang lewat. Kejenuhan kami lama kelamaan muncul juga, bersamaan dengan rasa capek dan kantuk yang kian menyerang. Suara keceriaan mulai surut, yang ada hanyalah suara langkah yang tetap dan suara serangga malam disertai angin yang menambah semakin berkurangnya kesadaran kami.
Rasa kantuk datang lebih dulu dari rasa capek, meskipun kaki ini masih terus berjalan mengikuti irama, tetapi kesadaran kami sangat tipis, antara mimpin dan tidak. Kaki ini terus melangkah, tetapi kesadaran kami hanya setengah.
Tanpa disadari ada seorang yang terjatuh karena kantuk, dan kemudian yang lainnya juga merasakan hal yang serupa, tidak dapat manahan kantuk sampai terjatuh, meskipun kaki ini mencoba setia dengan langkahnya. Jam waktu itu mungkin sudah menunjukkan sekitar 10 malam. Kemudian ketua rombongan berinisiatif untuk mengistirahatkan sementara anak-anak ini. Kebetulan waktu itu tepat di depan kantor polisi Pemalang, dan kami diberi kesempatan untuk numpang istirahat dan tidur di kantor polisi Pemalang. Pemalang adalah sebuah kecamatan yang terletak persis ditengah-tengah kota Pekalongan dan Tegal.
Sudah barang tentu tidak cuma istirahat yang kami lakukan, tetapi juga tidur dengan pulas meskipun tidak beralas apapun.
Jam 5 pagi kami sudah bersiap-siap melakukan perjalanan. Pemberangkatan mulanya dilakukan masih dengan bentuk barisan, tetap lama-lama kami berpencar sesuai dengan kecepatan jalan masing-masing anak. Apalagi ketika matahari sudah tinggi, dianggap sudah tidak perlu lagi berjalan secara bergerombol.
Di setiap jalan setiap orang dibebaskan istirahat sesukanya, targetnya adalah berjalan sampai kota tujuan Pekalongan. Kami tidak ingin terlalu lama di jalan, ingin segera sampai kerumah dan istirahat dengan nyaman. Begitulah yang terbayang dibenak kami masing-masing. Istirahat di jalan dilakukan seperlunya saja. Untuk kebutuhan minum kami tidak perlu bersusah payah, karena kebanyakan rumah disepanjang jalan menyediakan sebuah tempayan berisi air bersih yang memang disediakan untuk pejalan kaki seperti kita ini. Kadang-kadang kami disuruh masuk oleh yang punya rumah untuk istirahat dan tentu saja dengan sajian kue-kue seadanya.
Begitulah, sampai di Pekalongan sekitar pukul 11 siang. Mungkin tidur terpanjang yang kualami adalah waktu itu setelah perjalan kaki dari Tegal ke Pekalongan itu. Dari mulai jam 1 Minggu siang sampai Senin pagi, karena harus berangkat ke sekolah keesokan harinya.